Dalam kehidupan kita sekarang ini seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta meningkatnya keadaan ekonomi, banyak hal yang mendorong kita untuk cenderung menjadi overweight dan obesitas. Keadaan ini tentu saja akan berdampak luas terhadap status kesehatan maupun estetika individu.
Obesitas didefinisikan sebagai keadaan dimana terjadi penimbunan lemak yang berlebih yang ditandai dengan meningkatnya Indek Masa Tubuh (IMT) dan Lingkar perut (LP).
Jumlah populasi penduduk dunia yang mempunyai IMT di atas 30 kg/m2 saat ini mencapai 250 juta orang atau sekitar 7% dari populasi dewasa di dunia. Angka ini ternyata semakin meningkat setiap tahunnya, termasuk di Indonesia. Untuk ukuran orang asia, standar WHO/IOTF/IDF Asia Pacific, yaitu 24,9 kg/m2 dengan batas LP perempuan 82,5% dan laki-laki 88,7%.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya obesitas, antara lain faktor genetik, psiko sosial, aktifitas dan latar belakang kultural. Penyebab terjadinya obesitas adalah karena terjadinya gangguan dalam keseimbangan energi, dimana energi intake lebih besar daripada energi expenditure. Jaringan adipose merupakan sel yang aktif mengatur keseimbangan energi, dimana sebagai suatu jaringan kompleks, esensial dan aktif secara metabolik, juga merupakan organ endoktrin penghasil hormone leptin dan adiponektin. Kedua hormon tersebut ditemukan kadarnya menurun pada individu dengan obesitas. Akan tetapi terapi pemberian leptin untuk kebanyakan kasus obesitas pada manusia ternyata hanya sedikit memberikan efek.
Konsekuensi yang dapat ditimbulkan pada obesitas dan overweight diantaranya adalah diabetes, peningkatan resiko kardiovaskular, penyakit jantung koroner, gangguan keseimbangan hormonal, gangguan pernafasan, gangguan persendian tulang, gangguan tidur bahkan invertilitas dan lain-lain. Oleh karena itu jika obesitas dapat ditangani maka diharapkan resiko penyakit komorbid tersebut di atas juga akan dapat diturunkan.
Karena banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya obesitas, maka pengelolaan obesitas memerlukan pendekatan yang komprehensif yang terdiri dari :
Pengaturan diet, kegiatan fisik, perubahan kebiasaan hidup yang tidak sehat, suplemen kesehatan serta terapi medis termasuk penggunaan obat-obatan (farmakoterapi).
Diet merupakan faktor utama dalam pengelolaan obesitas. Dalam pengaturan diet, yang lebih perlu dilakukan adalah perubahan pemilihan makanan, kebiasaan makan dan gaya hidup dalam jangka panjang daripada pembatasan sementara terhadap jenis makanan tertentu.
Terdapat dua jenis diet yang efektif dalam menurunkan berat badan pada obesitas, yaitu :
- Diet seimbang kalori (1200-1600 kkal)
- Diet seimbang sangat rendah kalori (400-800 kkal)
Untuk dapat melakukan pengelolaan perubahan kebiasaan hidup diperlukan disiplin diri, penentuan tujuan bersama, pengaturan makanan, aktifitas (tidak hanya dalam bentuk olah raga khusus), perubahan lingkungan agar tidak kembali pada kebiasaan semula dan mencegah simdroma yo-yo.
By : dr. Freddy Wilamana, MFPM, SpFk
|